ALIFERETI SAKIASI/AI GENERATED
Di luar berita tentang konflik, kekerasan dan perdebatan politik, ada Papua yang menjalani kesehariannya dengan cara yang jauh lebih sederhana. Setiap Agustus, wajah itu terlihat di sekolah, gereja, pasar dan kampung-kampung—ketika merah putih bertemu dengan tradisi, doa dan kehidupan masyarakat.
Pagi belum sepenuhnya tiba ketika halaman sebuah sekolah di Papua mulai ramai.
Sejumlah siswa berdiri membentuk barisan. Ada yang masih memperbaiki posisi, ada yang berulang kali mencoba menyamakan langkah. Guru mereka berdiri tak jauh dari sana, sesekali memberi arahan.
Di sisi lain, beberapa pemuda sibuk memasang merah putih di sepanjang jalan. Para ibu menyiapkan makanan. Anak-anak membicarakan perlombaan yang akan mereka ikuti. Dari sebuah gereja, suara latihan paduan suara terdengar samar.
Papua sedang menyambut Agustus.
Beberapa hari lagi, lapangan yang pagi itu menjadi tempat latihan akan berubah menjadi ruang pertemuan warga. Anak-anak berlari, keluarga berkumpul, musik dimainkan dan berbagai perlombaan digelar.
Merah putih berkibar di tengah warna-warni pakaian tradisional. Bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa daerah. Tarian adat tampil berdampingan dengan upacara kemerdekaan.
Sebuah pemandangan yang sangat Papua—dan pada saat yang sama menjadi bagian dari perayaan Indonesia.
Namun, wajah seperti inilah yang justru jarang terlihat oleh dunia.
Ketika Papua Lebih Sering Hadir sebagai Konflik
Bagi sebagian masyarakat internasional, nama Papua lebih akrab melalui berita mengenai konflik bersenjata, operasi keamanan, persoalan hak asasi manusia, pembangunan, serta perdebatan politik mengenai masa depannya.
Persoalan-persoalan itu nyata. Mengabaikannya tentu bukan pilihan.
Tetapi ada persoalan lain ketika konflik menjadi satu-satunya jendela untuk memahami Papua: kehidupan jutaan orang biasa perlahan menghilang dari pandangan.
Guru yang datang ke sekolah setiap pagi tidak terlihat.
Nelayan yang berangkat sebelum matahari muncul tidak menjadi berita.
Petani yang menjaga kebunnya, pedagang yang membuka kios, pendeta yang mengunjungi jemaat, hingga orang tua yang memikirkan pendidikan anaknya jarang masuk dalam percakapan besar mengenai Papua.
Padahal, bagi sebagian besar masyarakat, kehidupan justru berlangsung di ruang-ruang tersebut.
Agustus Membuka Jendela yang Berbeda
Setiap Agustus, sisi lain Papua muncul dengan lebih jelas.
Dari Jayapura hingga Merauke, dari Wamena hingga Timika, Biak dan Sorong, masyarakat mulai mempersiapkan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Sekolah menggelar latihan upacara. Pemuda menghias lingkungan. Gereja mengadakan doa dan kegiatan bersama. Komunitas lokal menyiapkan perlombaan, pertandingan olahraga, pertunjukan musik hingga tarian tradisional.
Sebagian besar kegiatan itu berlangsung tanpa kamera media internasional.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada pernyataan diplomatik.
Tidak ada panggung geopolitik.
Hanya masyarakat yang berkumpul.
Seorang anak yang berlari membawa bendera merah putih hampir sebesar tubuhnya mungkin tidak sedang memikirkan politik. Ibunya yang merapikan seragam upacara juga tidak sedang mencoba menyampaikan pesan kepada dunia.
Begitu pula seorang tetua adat yang duduk menyaksikan cucunya menari.
Bagi mereka, hari itu bisa sesederhana kesempatan untuk berkumpul, berdoa, tertawa dan merayakan sesuatu bersama tetangga serta keluarga.
Dan justru kesederhanaan itulah yang sering luput dari gambaran mengenai Papua.
Papua Bukan Sekadar Sebuah Isu
Terlalu sering Papua dibicarakan sebagai sebuah abstraksi.
Ia menjadi wilayah di peta. Menjadi bahan perdebatan diplomatik. Menjadi isu keamanan. Menjadi pertarungan antara narasi politik yang saling berlawanan.
Di tengah semua itu, masyarakatnya berisiko berubah menjadi sekadar angka dan simbol.
Padahal Papua adalah rumah.
Rumah bagi seorang guru yang memikirkan pelajaran esok pagi.
Rumah bagi keluarga yang menggantungkan hidup pada laut dan kebun.
Rumah bagi pedagang yang menghitung hasil penjualan di pasar.
Rumah bagi pemimpin agama yang mendampingi jemaatnya.
Dan rumah bagi orang tua yang, seperti orang tua di banyak tempat lain di Pasifik, berharap anak-anak mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Kenyataan tersebut tidak menghapus konflik.
Namun ia mengingatkan bahwa konflik bukanlah keseluruhan Papua.
Melihat Papua dari Samudra Perdamaian
Di kawasan Pasifik, perspektif tersebut menjadi relevan ketika ditempatkan dalam gagasan Samudra Perdamaian.
Visi Pasifik sebagai kawasan perdamaian menempatkan dialog, kepercayaan dan saling menghormati sebagai fondasi hubungan antarbangsa dan masyarakat.
Namun perdamaian juga menuntut sesuatu yang lebih mendasar: kesediaan melihat tetangga secara utuh.
Sebuah masyarakat tidak dapat dipahami secara adil jika peristiwa paling keras dianggap sebagai gambaran kesehariannya, sementara kehidupan normal justru diperlakukan sebagai pengecualian.
Konflik harus diberitakan.
Kekerasan harus diperiksa.
Keselamatan warga sipil harus menjadi perhatian.
Ketimpangan pembangunan, ketidakadilan dan ketidakpercayaan masyarakat juga harus mendapatkan ruang dalam percakapan mengenai Papua.
Tetapi ketepatan dalam memahami Papua juga berarti mengakui bahwa jutaan orang tetap menjalani kehidupan mereka di luar pusaran konflik tersebut.
Perdamaian, dalam pengertian itu, dimulai dari kemampuan melihat kenyataan secara lengkap.
Ketika Merah Putih Bertemu Identitas Papua
Ada hal lain yang menarik ketika melihat perayaan Agustus di Papua: identitas lokal tidak serta-merta menghilang ketika merah putih dikibarkan.
Justru keduanya sering hadir dalam ruang yang sama.
Bahasa daerah tetap digunakan. Musik tradisional dimainkan. Tarian adat ditampilkan. Makanan lokal dibagikan. Tokoh adat tetap dihormati.
Di satu sisi ada bendera nasional. Di sisi lain, identitas budaya Papua tetap hidup.
Bagi mereka yang melihat identitas hanya dalam kategori politik yang tegas, pemandangan semacam ini mungkin terasa rumit.
Tetapi manusia memang tidak hidup dalam satu identitas.
Seseorang dapat merasa terikat dengan keluarga, marga, suku, gereja, bahasa, kampung, kota, budaya dan bangsa pada saat yang bersamaan.
Identitas-identitas tersebut tidak selalu harus saling menghapus.
Sering kali, semuanya tumbuh bersama.
Tidak Ada Satu Suara untuk Seluruh Papua
Menggambarkan sisi kehidupan tersebut juga tidak berarti menyatakan bahwa Papua tidak memiliki persoalan.
Papua memiliki sejarah panjang, pengalaman politik yang kompleks, ketimpangan pembangunan, persoalan keamanan, kekerasan serta ketidakpercayaan yang masih menjadi tantangan.
Pandangan politik masyarakatnya pun beragam.
Justru karena keragaman itulah, Papua tidak dapat direpresentasikan hanya oleh satu suara.
Tidak ada satu aktivis, organisasi politik, kelompok bersenjata, tokoh adat ataupun pejabat pemerintah yang dengan sendirinya dapat dianggap berbicara atas nama seluruh masyarakat Papua.
Suara yang paling keras terdengar belum tentu suara yang paling banyak.
Peristiwa yang paling dramatis juga belum tentu menggambarkan kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat.
Kompleksitas itulah yang seharusnya menjadi titik awal ketika berbicara mengenai Papua.
Pelajaran yang Dekat bagi Fiji
Bagi Fiji, cara pandang tersebut seharusnya terasa familiar.
Bayangkan jika Fiji hanya dikenal dunia melalui periode krisis politiknya.
Tidak ada cerita mengenai keluarga di Suva. Tidak ada kehidupan pasar di Lautoka. Tidak ada keseharian masyarakat Labasa, Levuka ataupun pulau-pulau terpencil.
Sekolah, gereja, desa, persahabatan, tradisi dan kewajiban keluarga menghilang dari gambaran.
Informasinya mungkin tidak sepenuhnya salah.
Tetapi gambarnya jelas tidak lengkap.
Papua layak mendapatkan cara pandang yang sama.
Melihat kehidupan sehari-hari bukan berarti berpaling dari persoalan sulit. Sebaliknya, hal itu menempatkan persoalan tersebut pada konteks yang lebih manusiawi.
Jurnalisme tetap harus melaporkan konflik.
Tetapi konflik adalah sebuah peristiwa.
Ia bukan keseluruhan kehidupan suatu masyarakat.
Papua yang Lain
Pada 17 Agustus, banyak lapangan di Papua akan kembali ramai.
Ada yang memulai pagi dengan doa. Ada yang berdiri mengikuti upacara bendera. Di tempat lain, anak-anak bersiap mengikuti lomba lari karung, pertandingan sepak bola atau permainan sederhana lainnya.
Musik terdengar.
Tarian tradisional ditampilkan.
Pedagang kecil menjual makanan.
Keluarga mengambil foto bersama.
Menjelang sore, anak-anak pulang dengan pakaian kotor, hadiah sederhana dan cerita tentang siapa yang menang dan siapa yang terjatuh saat berlomba.
Mungkin tidak ada sesuatu yang cukup dramatis untuk menjadi berita utama dunia.
Tetapi justru di situlah sebuah cerita penting berada.
Papua bukan hanya tempat berlangsungnya perdebatan politik.
Papua juga merupakan tempat orang mengajar, berkebun, melaut, berdagang, beribadah, jatuh cinta, membesarkan anak, mempertahankan bahasa, menjaga tradisi dan membangun komunitas.
Masa depan Papua karena itu tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berbicara di podium, mengeluarkan pernyataan politik atau mengangkat senjata.
Masa depan itu juga sedang dibangun, perlahan dan hampir tanpa sorotan, oleh masyarakat yang setiap pagi membuka sekolah, pergi ke kebun, berdagang di pasar, menjaga keluarga dan merawat komunitasnya.
Setiap kali dunia berbicara tentang Papua, konflik hampir selalu memperoleh panggung utama.
Agustus memperlihatkan panggung yang berbeda.
Seorang anak berlari melintasi lapangan dengan merah putih di tangannya. Ibunya memanggil dari kejauhan. Seorang tetua tersenyum melihatnya.
Tidak ada pidato politik dalam pemandangan itu.
Tidak ada perdebatan geopolitik.
Hanya kehidupan.
Dan mungkin, untuk memahami Papua secara lebih adil, dunia perlu lebih sering melihat bagian yang satu ini.