
JAKARTA: Tren penutupan mesin ATM di Indonesia semakin nyata, dipicu peralihan masif nasabah ke layanan keuangan berbasis aplikasi.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menjelaskan perubahan tersebut tidak terlepas dari pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengandalkan layanan digital dibandingkan fasilitas fisik seperti kantor cabang, mesin ATM, maupun contact center.
Menurutnya, transisi menuju online banking dan mobile banking berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
“Mungkin kalau dulu kita war tiket kereta lebaran ya itu jam 12 malam kita harus ke ATM untuk bayar tiketnya, itu sekarang tidak lagi karena ada online banking sama mobile apps. Ini menurunkan dari jumlah mesin ATM yang ada di Indonesia, yang beroperasi di Indonesia,” jelas Huda dalam acara Digital Banking & Economic Outlook 2026 di Jakarta Selatan, diwartakan CNN Indonesia, Selasa (10/3).
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM hingga kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit. Angka ini turun dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 91.173 unit.
Artinya, terdapat 1.399 mesin ATM yang tidak lagi beroperasi dalam satu tahun terakhir.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya memproyeksikan tren penurunan ini akan terus berlanjut.
TRANSAKSI DIGITAL MELESAT
Seiring menyusutnya penggunaan ATM, transaksi pembayaran digital meningkat signifikan. CELIOS memperkirakan nilai transaksi digital berpotensi menembus Rp4 triliun pada 2026, melesat tajam dari sekitar Rp2,5 triliun pada 2024.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan penetrasi internet dan penggunaan ponsel. Data menunjukkan penetrasi internet melonjak dari 24,23 persen pada 2013 menjadi sekitar 73,70 persen pada periode 2019–2020 sebelum cenderung stabil.
Pengeluaran konsumsi internet masyarakat juga meningkat, dari sekitar Rp84 juta pada 2018 menjadi Rp146 juta pada 2023.
Selain pembayaran digital, sektor pinjaman daring diproyeksikan tetap tumbuh pada 2026 di kisaran 10 persen, meski melambat dibanding periode sebelumnya. Pinjaman bank digital sempat mencatat pertumbuhan kredit tertinggi pada 2022 dengan lonjakan 113,94 persen.
Di sisi penghimpunan dana, tabungan di bank digital juga menunjukkan ekspansi signifikan setelah sempat melonjak 915,82 persen pada awal 2021 dan stabil di kisaran dua digit pada tahun-tahun berikutnya.